Peningkatan Status Gunung Merapi, DIY-Jateng dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada)

1. Hasil Pengamatan

Berdasarkan pengamatan visual dari Pos Pengamatan dan CCTV cuaca cerah terjadi pada siang hari, pagi dan sore hingga malam hari dominan berkabut, disertai hujan berangin. Asap solfatara umumnya berwarna putih tebal, tekanan gas lemah dengan tinggi maksimum 25 m, teramati dari Pos Kaliurang. Cuaca di Pasar Bubar 12 °C kelembaban 92,3 % RH, tekanan udara 74,26 kph, kecepatan angin maksimum 23,28 km/jam, dan arah angin dominan dari Barat Laut ke Tenggara.

Pos-pos pemantauan melaporkan terjadi suara gemuruh bersamaan dengan erupsi freatik sebanyak tiga (3) kali pada tanggal 21 Mei 2018 masing-masing pada pukul 01.25 WIB durasi 19 menit ketinggian kolom erupsi 700 m, pukul 09.38 WIB durasi 6 menit ketinggian kolom erupsi 1200 m, dan pukul 17.50 durasi 3 menit ketinggian kolom erupsi tidak teramati. Erupsi freatik yang terjadi pada tanggal 21 Mei 2018 terhitung intensif. Erupsi freatik sebelumnya terjadi pada tanggal 11 Mei 2018 setelah sekitar 4 tahun tidak terjadi letusan freatik.
Pada minggu ini, kegempaan G. Merapi tercatat 1 kali gempa vulkanik (VT), 12 kali gempa multiphase (MP), 1 kali gempa tremor, 12 kali gempa guguran (RF), 3 kali gempa letusan, dan 5 kali gempa tektonik (TT). Gempa guguran yang terjadi pada tanggal 20 Mei 2018 pukul 21.30 WIB tergolong besar dan sempat terdengar oleh penduduk.

Pada tanggal 21 Mei 2018, kegempaan G. Merapi tercatat 1 kali gempa vulkanik (VT), 1 kali gempa tremor, 2 kali gempa guguran (RF), 3 kali gempa letusan, dan 3 kali gempa tektonik (TT). Gempa VT dan Tremor terjadi setelah letusan pukul 17.50 WIB. Gempa Tremor berfrekuensi sekitar 0,2 Hz dengan amplitudo rata-rata 5-10 mm.
Suhu pusat kawah sekitar 85 °C meningkat dari kondisi normal (<50 °C).

2. Kesimpulan

Sehubungan telah terjadi peningkatan aktivitas letusan freatik dan diikuti dengan kejadian gempa VT dan gempa Tremor maka disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik G. Merapi mengalami peningkatan.

Dengan meningkatnya aktivitas tersebut, maka terhitung mulai tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB, status aktivitas G. Merapi dinaikkan dari tingkat NORMAL menjadi WASPADA.

3. Rekomendasi
Dengan peningkatan status aktivitas G. Merapi dari NORMAL menjadi WASPADA kepada para pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana G. Merapi direkomendasikan sebagai berikut :
1. Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.
2. Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
3. Masyarakat yang tinggal di KRB III mohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi.
4. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
5. Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan G. Merapi terdekat melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 MHz melalui website www.merapi.bgl.esdm.go.id, media sosial BPPTKG, atau ke kantor BPPTKG, Jalan Cendana No. 15 Yogyakarta, telepon (0274) 514180-514192.
6. Pemerintah daerah direkomendasikan untuk mensosialisasikan kondisi G. Merapi saat ini kepada masyarakat.


Erupsi Freatik Gunungapi Merapi 21 Mei 2018

Hasil Pengamatan

  • Kegempaan dari tanggal 19 Mei 2018 terdeteksi adanya gempa multifase (MP) 2 kali, gempa Guguran sebanyak 4 kali, dan gempa Tektonik 1 kali.
  • Pada tanggal 20 Mei terdeteksi gempa Guguran 4 kali dan Tektonik 1 kali. Gempa Guguran yang terjadi pada pukul 21.29 tergolong sedang dan dilaporkan terdengar oleh seorang warga di Srunen.
  • Pada tanggal 21 Mei dari jam 00.00 sampai 12.00 terdeteksi gempa Letusan 2 kali yaitu pada pukul 01.25 WIB dan 9.38 WIB, gempa multifase (MP) 3 kali, gempa Guguran 3 kali, dan gempa Tektonik 2 kali.
  • Tidak terjadi peningkatan suhu kawah menjelang erupsi freatik. Peningkatan suhu mencapai 275 (maksimal alat) teramati saat letusan.
  • Deformasi G. Merapi yang dipantau secara instrumental dengan menggunakan Tiltmeter, EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
  • Erupsi freatik Gunungapi Merapi terjadi pada tanggal 21 Mei pukul 01.25 WIB selama 19 menit. Ketinggian kolom erupsi mencapai 700 m di atas puncak. Hujan abu dilaporkan tersebar mencapai 15 km ke arah Barat.
  • Erupsi freatik Gunungapi Merapi kembali terjadi pada pukul 09.38 WIB selama 6 menit. Ketinggian kolom erupsi mencapai 1200 m di atas puncak. Hujan abu dilaporkan tersebar mencapai 15 km ke arah Barat.
  • Pasca erupsi, kegempaan yang terekam tidak mengalami peningkatan yang signifikan dan suhu kawah mengalami penurunan.

Kesimpulan

  • Erupsi yang terjadi hari ini merupakan erupsi yang dipicu oleh akumulasi gas vulkanik.
  • Status aktivitas G. Merapi dinyatakan dalam tingkat NORMAL.

Rekomendasi

  • Hingga saat ini aktivitas Merapi sudah mereda, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang.
  • Sehubungan terjadi hujan abu di beberapa tempat maka masyarakat dan pemerintah daerah melakukan penganggulangan bahaya abu vulkanik.
  • Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kondisi morfologi puncak G. Merapi saat ini rawan terjadi longsor, sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki.
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka tingkat aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

Erupsi Freatik Gunungapi Merapi 11 Mei 2018

1. Hasil Pengamatan

  • Kegempaan dari tanggal 9 Mei 2018 terdeteksi adanya gempa vulkanik (VT) sebanyak 2 kali dan gempa guguran  8 kali. Pada tanggal 10 Mei terdeteksi gempa vulkanik 4 kali dan gempa guguran 3 kali. Pada tanggal 11 Mei dari jam 00.00 sampai 08.00 terdeteksi gempa guguran 1 kali dan gempa multi fase 1 kali.
  • Hasil pemantauan suhu kawah, sekitar 2 jam sebelum erupsi terjadi peningkatan suku kawah di area 3 (didalam kawah) meningkat dari 38.2 oC pukul 01:00 menjadi 90.6C pukul 08:30 WIB.
  • Deformasi  G.  Merapi  yang  dipantau  secara  instrumental  dengan menggunakan EDM dan GPS tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
  • Berdasarkan pengamatan visual, erupsi Gunungapi Merapi terjadi pada tanggal 11 Mei 2018 pukul 7:40 WIB diawali dengan suara gemuruh kecil, dirasakan  getaran  di seputar  Pos  Pengamatan  G.  Merapi Babadan dengan durasi selama 10 menit. Ketinggian kolom erupsi mencapai 5,5 km di atas puncak. Terjadi hujan abu dan pasir tipis di sekitar Pos Pengamatan G. Merapi Kaliurang. Erupsi berlangsung satu kali dan tidak diikuti erupsi susulan.
  • Pasca erupsi, kegempaan yang terekam tidak mengalami perubahan dan suhu kawah mengalami penurunan.

2. Kesimpulan

  • Disimpulkan letusan yang terjadi saat ini merupakan letusan minor yang dipicu oleh akumulasi gas vulkanik dan kemungkinan tidak akan diikuti oleh erupsi lebih lanjut.
  • Status aktivitas G. Merapi dinyatakan dalam tingkat “NORMAL”.

3. Rekomendasi

  • Hingga saat ini aktivitas Merapi sudah mereda, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang.
  • Kegiatan pendakian G. Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana. Kondisi morfologi puncak G. Merapi saat ini rawan terjadi longsor, sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki
  • Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka tingkat aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

Sumber: KESDM, Badan Geologi, PVMBG Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi


Tinggalkan Balasan