Gunung Tambora, atau Tomboro, adalah stratovolcano aktif di bagian utara Sumbawa, salah satu Kepulauan Sunda Kecil di Indonesia. Tambora dikenal karena letusan utamanya pada tahun 1815. Itu terbentuk karena zona subduksi aktif di bawahnya, dan sebelum letusan 1815, tingginya lebih dari 4.300 meter (14.100 kaki), menjadikannya salah satu puncak tertinggi di kepulauan Indonesia.

Tambora, Terisolasi di Pulau Sumbawa, dan mencapai puncaknya pada ketinggian 2850 m. Gunung berapi inilah yang memegang rekor menyedihkan letusan paling mematikan di dunia. Dari ketinggian 4300 m, letusan raksasa 1815 akan menguranginya menjadi 2850 m dan membentuk kaldera dengan diameter sekitar 6 km dan kedalaman 1.110 m!


8 Hal yang Harus Anda Tahu Sebelum Mendaki Gunung Tambora


Bagaimana cara untuk pergi ke Gunung Tambora

Gunung Tambora dapat didaki melalui tiga titik pendakian, yang semuanya berada di kabupaten Dompu. Jalur pertama adalah di Dusun Pancasila, Desa Tambora, trek kedua di desa Doropeti dan trek ketiga di sabana Doro Ncanga, Desa Sorotatanga. Dari tiga jalur pendakian, dua jalur merupakan jalur pendakian yang biasa bagi pendaki gunung sedangkan yang lainnya adalah jalur pendakiannya sebagian bisa dilalui kendaraan.

Bagaimana cara pergi ke Desa Pancasila?

Dari Terminal Dompu
  • Dari Terminal Dompu, anda bisa naik bus dengan trayek Dompu – Calabai, Turun di Kadindi
  • Dari Kadindi anda bisa menggunakan jasa ojek untuk menuju ke Desa Pancasila
Dari Denpasar
  • Dari Denpasar anda bisa menggunakan pesawat dengan rute Denpasar – Bima
  • Dari Bandara Bima, anda bisa naik bus dengan tujuan ke Terminal Dompu
  • Dilanjutkan dengan naik bus Dompu – Calabai, turun di Kadindi
  • Dari Kadindi naik Ojek ke Desa Pancasila
Dari Pelabuhan Sape (dari arah Labuan Bajo)
  • Anda bisa menggunakan bus dengan tujuan ke Sumbawa Besar, turun di Terminal Dompu
  • Dari Terminal Dompu naik bus dengan trayek Dompu – Calabai, turun di Kadindi
  • Dari Kadindi, naik ojek ke desa Pancasila

Bagaimana cara menuju Doro Ncanga?

Anda bisa menaiki bus tujuan Dompu, kemudian berlanjut ke Kecamatan Manggalewa tepatnya di Cabang Banggo. Dari sini anda masih harus menunggu bus yang akan menuju Doro Ncanga.

Bagaimana cara menuju Doropeti

Untuk Transportasi utama menuju Doropeti anda bisa menggunakan bus dari teminal Dompu. Dari sana ada bus yang melayani rute Dompu – Doropeti.

Catatan : Perlu diingat bahwa bus adalah moda transportasi utama di daerah ini. Oleh karena itu anda bisa saja berada di dalam bus bersama dengan hewan ternak. Tidak jarang juga anda harus duduk di atap bus. Jadwal keberangkatan bus sewaktu-waktu bisa saja dibatalkan apabila terjadi kerusakan atau hal lainnya. Apabila anda memutuskan untuk memakai transportasi umum maka sebaiknya anda tiba di terminal Dompu di pagi hari. Apabila anda tidak mau repot, maka lebih disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan jasa Tour Operator.

Kapan harus mendaki ke Gunung Tambora

Waktu terbaik untuk mengunjungi Gunung Tambora adalah di musim kemarau, antara bulan April sampai Oktober. Pada Tanggal 10 April biasanya Gunung Tambora akan sangat ramai dengan pendaki, mereka datang dalam rangka memperingati hari meletusnya Tambora.

Berapa tiket masuk Gunung Tambora

  • Wisatawan Asing : IDR 150.000/orang
  • Wisatawan Nusantara : IDR 5.000/orang

Dimana saya bisa menemukan Penginapan?

Akan sangat sulit menemukan penginapan di area ini. Anda mungkin akan menemukan beberapa homestay sederhana atau anda juga bisa beristirahat di Pos Pendakian Gunung Tambora.

Mendaki Tambora, dengan atau tanpa guide?

Bagi anda yang baru pertama kali sangat disarankan untuk menggunakan jasa pemandu karena beberapa lintasan di Tambora bisa menyesatkan anda.

Dimana saya bisa mencari jasa guide dan porter?

Anda bisa menghubungi Pos Pendakian apabila memerlukan jasa guide dan porter

Dimana saya bisa mendapatkan peralatan pendakian?

Sangat disarankan untuk membawa peralatan pendakian pribadi anda, karena di area ini tidak ada yang menyewakan peralatan pendakian.

Apa yang bisa dilakukan di sekitar Gunung Tambora?

  • Mengunjungi Pulau Satonda dan Pulau Moyo
  • Mendaki Gunung Sangeang Api

Pendakian Gunung Tambora bersama Go-Volcano


Gambaran Perjalanan :

  • Kaldera berdiameter hampir 6 km dengan kedalaman 1.110 m
  • Berada di luar jalur pariwisata, karena letaknya di area terpencil
  • Pemandangan indah dari Indonesia timur

Pendakian Gunung Tambora 5 hari 4 malam

Detil Program dan Itinerari

Hari Pertama : Bima – Desa Pancasila

Setibanya di Bima, Anda akan dijemput di bandara dan diantar ke desa Pancasila. Makan siang akan disediakan dalam perjalanan ke desa. Anda akan makan dan bermalam di wisma di desa Pancasila.

Hari Kedua : Desa Pancasila – Pos 5

Anda akan mulai mendaki segera setelah selesai sarapan. Melewati jalur dengan vegetasi hutan hujan untuk mencapai pos 3 di mana Anda akan berhenti untuk makan siang. Kemudian Anda akan melanjutkan pendakian sampai ke Pos 5, di mana anda akan bermalam di dalam tenda.

Hari Ketiga : Pos 5 – Puncak Tambora – Desa Pancasila

Bangun jam 3 pagi, untuk memulai pendakian menuju Puncak Tambora (setelah beberapa minuman panas untuk menghangatkan anda). Sarapan akan disajikan di puncak sambil menikmati matahari terbit dan pemandangan kawah. Setelah itu Anda akan kembali turun ke Desa Pancasila untuk bermalam di wisma

Hari Keempat : Desa Pancasila – Bima

Setelah sarapan, berangkat ke Bima. Makan siang akan disajikan di Bima, kemudian check-in di hotel dan waktu luang untuk anda menjelajahi kota. Di sore hari anda bisa pergi ke Bukit Danatraha untuk menikmati matahari terbenam sebelum makan malam.

Hari Kelima : Bima

Anda akan diantarkan menuju Bandara.

Perjalanan Selesai

Harga

Fasilitas


Gunung Tambora


Gunung Tambora terletak di pulau Sumbawa yang merupakan bagian dari kepulauan Nusa Tenggara. Gunung ini adalah bagian dari busur Sunda, tali dari kepulauan vulkanik yang membentuk rantai selatan kepulauan Indonesia. Tambora membentuk semenanjungnya sendiri di pulau Sumbawa yang disebut semenanjung Sanggar. Di sisi utara semenanjung tersebut, terdapat laut Flores, dan di sebelah selatan terdapat teluk Saleh dengan panjang 86 km dan lebar 36 km. Pada mulut teluk Saleh, terdapat pulau kecil yang disebut Mojo.

Selain seismologis dan vulkanologis yang mengamati aktivitas gunung tersebut, gunung Tambora adalah daerah untuk riset ilmiah arkeolog dan biologi. Gunung ini juga menarik turis untuk mendaki gunung dan aktivitas margasatwa. Dompu dan Bima adalah kota yang letaknya paling dekat dengan gunung ini. Di lereng gunung Tambora, terdapat beberapa desa. Di sebelah timur terdapat desa Sanggar. Di sebelah barat laut, terdapat desa Doro Peti dan desa Pesanggrahan. Di sebelah barat, terdapat desa Calabai.

Tambora terbentang 340 km di sebelah utara sistem palung Jawa dan 180-190 km di atas zona subduksi. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik. Gunung ini memiliki laju konvergensi sebesar 7.8 cm per tahun. Tambora diperkirakan telah berada di bumi sejak 57.000 BP (penanggalan radiokarbon standar). Ketika gunung ini meninggi akibat proses geologi di bawahnya, dapur magma yang besar ikut terbentuk dan sekaligus mengosongkan isi magma. Pulau Mojo pun ikut terbentuk sebagai bagian dari proses geologi ini di mana teluk Saleh pada awalnya merupakan cekungan samudera (sekitar 25.000 BP).

Menurut penyelidikan geologi, kerucut vulkanik yang tinggi sudah terbentuk sebelum letusan tahun 1815 dengan karakteristik yang sama dengan bentuk stratovolcano. Diameter lubang tersebut mencapai 60 km. Lubang utama sering kali memancarkan lava yang mengalir turun secara teratur dengan deras ke lereng yang curam.

Sejak letusan tahun 1815, pada bagian paling bawah terdapat endapan lava dan material piroklastik. Kira-kira 40% dari lapisan diwakili oleh 1-4 m aliran lava tipis. Scoria tipis diproduksi oleh fragmentasi aliran lava. Pada bagian atas, lava ditutup oleh scoria, tuff dan bebatuan piroklastik yang mengalir ke bawah.[13] Pada gunung Tambora, terdapat 20 kawah. Beberapa kawah memiliki nama, misalnya Tahe (877 m), Molo (602 m), Kadiendinae, Kubah (1648 m) dan Doro Api Toi. Kawah tersebut juga memproduksi aliran lava basal.


Gunung Tambora dan Erupsinya


Erupsi Tambora, 1815

Letusan Tambora pada tahun 1815 dilaporkan memancarkan 30-33 km3 produk volkanik DRE (setara batuan padat atau non-vesikulasi), yang sampai saat ini dianggap sebagai letusan terkuat dari tiga milenium terakhir sebelum diturunkan dari penemuan letusan Samalas (Rinjani) 1257 sekitar 40 ± 3 km3 DRE (setara batuan padat atau magma non-vesikulasi) dari produk vulkanik.

Sebelum letusan 1815, Tambora berada di ketinggian 4300m. Letusan 1815 yang membawanya ke 2850m dan membentuk kaldera dengan diameter sekitar 6 km dan kedalaman 1.110 m! Sekitar 100km3 material yang terlontar (untuk perbandingan, Krakatau mengeluarkan material 18km3 selama letusan 1883). -Perhatian: jangan mengacaukan emisi produk vulkanik (Lava, abu …) yang berasal dari kedalaman bumi dan khususnya dari ruang magma dan bahan terlontar yang selain produk vulkanik termasuk semua batu yang dipindahkan oleh ledakan vulkanik, telah tahu puncak Tambora yang hilang. –

Letusan Tambora telah mendinginkan planet yang memiliki dampak buruk di Amerika Utara, Eropa, dan China yang semakin memperburuk krisis, kelaparan, dan perang.

Kronologi

Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum tahun 1815, dikenal dengan nama gunung berapi “tidur”, yang merupakan hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam dapur magma yang tertutup. Tekanan berlebih pada dapur magma sekitar 4.000 hingga 5.000 bar (58.000 hingga 73.000 psi) dihasilkan karena suhu berkisar antara 700 hingga 850°C.

Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam. Pada tanggal 5 April 1815, letusan terjadi, diikuti dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatera pada tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan. Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.

Pada pukul 7:00 malam tanggal 10 April, letusan gunung ini semakin kuat. Tiga lajur api terpancar dan bergabung. Seluruh pegunungan berubah menjadi aliran besar api. Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal 11 April. Abu menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau “nitrat” tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara tangal 11 dan 17 April 1815.

Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala Volcanic Explosivity Index. Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung Krakatau tahun 1883. Diperkirakan 100 km³ piroklastik trakiandesit dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1,4×1014 kg. Massa jenis abu yang jatuh di Makassar sebesar 636 kg/m². Sebelum letusan, gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300 m, salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi gunung ini hanya setinggi 2.851 m.

Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar dalam sejarah. Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km. Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak


Tinggalkan Balasan