Gunung berapi Krakatau adalah salah satu letusan paling dahsyat milenium ini. Ledakan letusan itu terdengar hingga radius 5.000 km. Geografinya telah banyak berubah dalam perjalanan waktu. Saat ini, hanya beberapa fragmen dari pulau asli yang tersisa. Tetapi pada tahun 1928, Anak Krakatau muncul dari kedalaman laut. Sejak itu ia tidak berhenti tumbuh dan hari ini, dia adalah kerucut gunung berapi yang sangat aktif dengan ketinggian 324 m.

Update Januari 2019: Krakatau sebagian runtuh di laut ukurannya saat ini diperkirakan sekitar 100 meter.

Krakatau 10 November 2018
Krakatau 12 Januari 2019

4 hal yang harus anda tahu sebelum berwisata dan melakukan pendakian ke Krakatau


Bagaimana cara pergi ke Gunung Krakatau?

Untuk menuju ke Gunung Krakatau, ada dua pilihan baik dari Anyer atau Carita di Jawa, sangat mudah diakses dari Jakarta Barat atau Kalianda di Sumatra, dapat diakses dari Bandar Lampung atau dari terminal feri Bakauheni yang menghubungkan Jawa dan Sumatra.

Dari Jawa

Kita tidak akan menjelaskan bagaimana cara anda untuk pergi ke Jakarta (anda pasti sudah tahu kan?). Dari Jakarta, ambil jalan tol menuju Merak. Anda memiliki beberapa pilihan:

Keluar di Cilegon dan ikuti jalan bergelombang ke Anyer dan Carita keluar di Pandeglang dan menuju ke pantai Labuhan. Kemudian ikuti jalan utara ke Carita dan Anyer. Opsi pertama lebih mudah diikuti, tetapi opsi kedua memiliki jalan yang lebih bagus.

Dari Carita, ada beberapa kapal menuju Krakatau.

Untuk Akomodasi ada beberapa pilihan di Anyer dan Carita. Carita jauh lebih murah.

Dari Sumatra

Bandar Lampung memiliki Bandara Raden Inten II dengan koneksi domestik ke Jakarta-Soekarno-Hatta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Batam, Palembang dan Bengkulu (lihat tiket.com)

Untuk menuju Kalianda, gunakan bus DAMRI ke Bandar Lampung (jika Anda berasal dari Jawa) dan ke Bakauheni jika Anda datang dari Bandar Lampung dan turun di Kalianda. Lalu pergi ke Dermaga Canti dan naik perahu ke Sebesi.

Untuk akomodasi, ada beberapa pilihan untuk anda di area Kalianda.

Kapan harus mengunjungi Krakatau?

Waktu terbaik adalah dari Mei hingga Oktober, ketika musim kemarau, mungkin april dan November akan terjadi sedikit hujan. Dari Desember hingga Maret akan tergantung pada kondisi laut.

Lihat di sini Iklim dan curah hujan Jawa

Berapa harga tiket masuknya?

Biasanya kapten dari kapal yang anda sewa akan mengurus tiket masuknya untuk anda.

Apa ada sumber air tawar di sekitar sana?

Tidak ada sumber air tawar di pulau-pulau. Anda harus menyediakan cukup air untuk minum, air untuk memasak (bukan ide yang bagus untuk memasak mie, beras, atau pasta dengan air laut kan?).


Pendakian ke Gunung Krakatau


Kondisi Krakatau terbaru 9 Februari 2019

Ada beberapa tour operator yang menawarkan wisata 1 hari dari resor Carita dan Anyer di Jawa atau Kalianda di Sumatra ke Krakatau. Jauh lebih murah untuk menyewa kapal di sisi Sumatra / Sebesi tetapi perlu waktu lebih lama untuk tiba dari Jakarta. Dari Carita, dibutuhkan sekitar 1,5 jam dengan speedboat untuk mencapai kepulauan Krakatau. Perjalanan yang biasa dilakukan jika Anda menginjakkan kaki di Anak Krakatau, adalah berlayar di antara tebing Pulau Rakata yang mengesankan dengan Anak Krakatau dan berlabuh di pantai berpasir kecil di belakang Anak Krakatau. Ada hutan yang sedang tumbuh di kaki gunung Krakatau, tetapi hanya beberapa meter di atasnya, yang akan Anda temui hanyalah batu vulkanik hitam dan pasir.

Puncak Anak Krakatau bisa sangat berbahaya, terutama jika gunung berapi sedang beraktifitas. Seringkali gunung berapi mengeluarkan bom (fusi besar atau batu yang sangat panas) yang dapat dengan mudah mencapai hutan kecil di awal pendakian. Namun, selama fase tenang, Anda bisa naik ke puncak kawah. Dibutuhkan kurang dari 2 jam untuk mencapai puncak. Ada punggunggan bukit yang cukup datar dengan pemandangan Pulau Rakata yang indah dan pulau-pulau disekitarnya. Dari sini Anda juga dapat mengagumi kerucut gunung berapi hitam dan curam dan menyaksikan gas-gas belerang naik dari tanah.

Di samping itu, hal ini juga berbahaya, tetapi kemungkinan untuk naik di kawah itu sendiri masih ada, jika Krakatau sangat tenang. Lereng pasir hitam yang curam, sangat melelahkan dan sulit untuk didaki. 3 langkah ke naik, 2 langkah turun, jika Anda beruntung. Sering ada banyak gas belerang dan pasir hitamnya panas. Bagi mereka yang tertarik, kegembiraan mendaki Anak Krakatau lebih kuat dari rasa takut yang bisa menggerakkan semangat kita. Dari tepi kawah, pemandangannya luar biasa, terutama di tebing curam. pulau tetangga Rakata, yang tingginya 813m, adalah sisa tertinggi dari pulau asli Krakatau, yang lainnya berada di bawah air. Kawah Anak Krakatau sendiri benar-benar terlihat seperti kuali iblis! Lumpur yang bergelembung, gas yang tebal, dinding batu yang mengerikan dan tepi kawah yang licin membuatnya menjadi tempat yang menakutkan tetapi menarik untuk dijelajahi.

Catatan kecil, mengingat aktivitas gunung Krakatau pada saat Anda membaca ini, puncaknya mungkin sudah sangat berbeda, dan bahkan pulau itu dapat berubah secara ekstrim.

Catatan: hal ini baru saja terjadi, perubahan bentuk Anak Krakatau akibat erupsi dan sebagian besar lerengnya hancur dan jatuh ke laut yang menyebabkan Tsunami yang mengerikan pada 22 Desember 2018.

Dalam kondisi aktivitas Krakatau yang tidak dapat diprediksi, Anda dapat turun dengan sangat cepat untuk mengamankan diri (hampir seperti ski atau berlari menuruni lereng berbatu) dan kembali naik perahu dalam waktu singkat. Ada tempat yang bagus untuk makan siang, berkemah, berenang, dan menyelam di pulau-pulau sekitarnya. Pulau Sertung mungkin menawarkan pemandangan gunung berapi terbaik. Jika Anda beruntung selama perjalanan, Anda juga akan menemukan banyak biawak dan ikan terbang.

Pendakian dan Penjelajahan Krakatau

  • Durasi : 3 Hari
  • Harga : Mulai dari IDR 5.000.000
  • Level : 2/5

Gambaran perjalanan

  • Menyaksikan lahirnya bumi (Anak Krakatau yang terus tumbuh)
  • Panorama yang menakjubkan di Selat Sunda dengan pulau-pulau disekitarnya
  • Pendakian di salah satu gunung berapi paling berbahaya di dunia

Pendakian dan perjalanan wisata ke Gunung Krakatau bisa dilihat dibawah ini:

Detil Program dan Itinerari

Hari pertama : Jakarta – Carita

Anda akan disambut oleh pemandu Anda saat tiba di Jakarta (bandara atau lainnya) dan Anda akan menuju pantai Carita. Makan siang di Carita kemudian hiking / trekking di air terjun Curug Gendang. Kemudian kembali ke Carita. Anda akan menginap dan makan malam di Villa Mangris. (tautan ke opini)

Akomodasi : Villa Mangris
Makan termasuk : Makan siang dan makan malam

Hari kedua : Carita – Krakatau

Makan pagi di hotel. Transfer ke Pelabuhan Marina untuk menyeberangi Selat Sunda ke Anak Krakatau dengan speed boat (sekitar 1 jam, tergantung pada kondisi cuaca) Tiba di Anak Krakatau di mana Anda akan mendaki. Kemudian makan siang di pantai. Kemudian Anda akan berlayar ke Pulau Sertung di mana Anda akan berkemah di malam hari, anda punya waktu luang untuk menjelajah pantai, atau snorkeling. makan malam di perkemahan.

Akomodasi : Tenda (i tenda untuk 2 orang)
Makanan termasuk : Sarapan, makan siang, dan makan malam

Hari ketiga : Krakatau – Carita – Jakarta

Makan pagi di pulau. Waktu luang untuk menjelajah pantai dan snorkeling. Kembali ke Carita untuk makan siang. Mandi di Carita. Kemudian diantar ke Jakarta.

Kontak kami untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan.


Gunung Krakatau


Krakatau 12 januari 2019

Gunung Krakatau, atau Krakatao sering juga disebut sebagai Krakatoa oleh orang-orang Eropa. Dalam artikel kali ini kita akan menggunakan nama Krakatau.

Krakatau, yang terletak di tengah Selat Sunda, antara Sumatra dan Jawa, sekitar 40 km dari bibir pantai. Memiliki kawah besar berdiameter lebih dari 8 km, terutama di bawah air, yang bagian-bagiannya terlihat membentuk 3 pulau: Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang. Sejak letusan dahsyatnya tahun 1883 yang menewaskan 36.417 korban (menurut otoritas kolonial Belanda yang pada waktu itu berkuasa di Indonesia), Krakatau tetap damai sampai munculnya penampakan, pada tahun 1927, tentang gunung baru yang mengerikan, Anak Krakatau. Pulau baru ini, yang berada di jantung tiga pulau lainnya, sebenarnya hanya kubah lava yang mengembang di tengah-tengah kawah raksasa. Saat ini, ketinggiannya sudah melebihi 300 meter untuk diameter tiga hingga empat kilometer, dan dia menghimpun kemarahan hampir sepanjang tahun. Ini adalah gunung berapi paling terkenal di dunia: diperkirakan lebih dari 8000 artikel telah diterbitkan tentang Krakatau. Pada tanggal 29 Agustus 1983, Indonesia untuk pertama kalinya secara resmi memperingati ulang tahun keseratus letusan dahsyatnya.

Peta Krakatau dan Selat Sunda

Peta Krakatau dan Selat Sunda

Erupsi Gunung Krakatau


Sejarah letusan Gunung Krakatau

Kondisi Geografis Krakatau sangatlah kacau, selalu berubah.

Menurut sejarahnya, gunung berapi Krakatau adalah pulau melingkar dengan diameter 11 km dan ketinggian 2000 m. Sebuah letusan dahsyat menghancurkan seluruh kerucut gunungnya, (mungkin letusan tahun 416 yang menghancurkan jembatan tanah antara Jawa dan Sumatra, menurut kronik Jawa kuno, atau letusan yang jauh lebih tua) hanya menyisakan 3 pulau kecil setinggi beberapa puluh meter. (sekarang disebut Sertung, Rakata kecil dan Panjang)

Letusan Krakatau pertama yang tercatat adalah pada tahun 416

Tanggal letusan pertama yang didokumentasikan secara historis untuk Krakatau masih diperdebatkan. Secara umum diakui pada tahun 416, tetapi ada juga yang mengatakan tahun 535. Kitab Raja “Pustaka Raja Purwa”, sebuah kronik Jawa yang ditulis pada abad keenam belas, mencatat bahwa pada tahun 338 dari era Saka, atau 416 dari kalender masehi mengatakan:

“Suara gemuruh terdengar dari Gunung Batuwara (sekarang disebut Pulosari). Seluruh bumi mengalami gempa hebat, kegelapan total, kilat dan badai. Lalu datanglah angin kencang, hujan lebat, dan badai mematikan yang menggelapkan seluruh dunia. Banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan menyebar ke timur ke Gunung Kamula (sekarang disebut Gede). Ketika air surut, orang bisa melihat bahwa pulau Jawa terbagi dua, menciptakan pulau Sumatra”

Harus diketahui bahwa di bagian timur Selat Sunda, kedalaman maksimumnya hanya 20 meter dan lebar sekitar 20 km (yang membuat hipotesis kronik Jawa tentang pemisahan Jawa dan Sumatra sangat masuk akal) . Ini bukan selat yang mudah untuk navigasi, dengan banyak gumuk pasir dan arus pasang surut yang kuat. Selat ini telah menjadi rute pengiriman penting selama berabad-abad, terutama ketika Perusahaan Hindia Timur Belanda memindahkan barang-barangnya dari Kepulauan Maluku (terutama cengkeh dan pala) ke Eropa atau India. Sekarang karena kondisnya yang sempit dan dangkal, selat ini ditinggalkan dan jalur pengiriman berpindah melalui Selat Malaka.

Tatanan Geografis dan letusan gunung berapi Krakatau antara abad ke-9 sampai 1883

Aktivitas gunung berapi terus dilanjutkan, melahirkan gunung api Rakata (ketinggian 830m untuk diameter 5 km). Kemudian ke kerucut gunung berapi kedua yang disebut Danan (450 m di atas permukaan laut). Terakhir GunungPerbuatan, kerucut gunung api ketiga (120 m di atas permukaan laut) yang bergabung ke dua lainnya (lihat peta Krakatau sebelum letusan 1883 di bawah).

Pulau Krakatau memiliki panjang 9 km dan lebar 5 km.

Antara abad ke-9 dan ke-16 ada 7 letusan besar dari gunung Perbuatan.

Pada 1680, letusan yang sangat dahsyat disertai dengan gelombang pasang menyebabkan sejumlah besar korban. (letusan ini juga telah dituliskan dalam catatan keagamaan).

Dari 1680 hingga 1883, selama 203 tahun tidak ada aktivitas. Pulau ini sepenuhnya berhutan dan tidak berpenghuni. Tempat ini hanya dikunjungi oleh orang-orang berdosa dan penebang kayu.

Erupsi Gunung Krakatau Tahun 1883

Peta Gunung Krakatau Sebelum Erupsi Tahun 1883

geografi Krakatau sebelum 1883

Kronologi Erupsi Krakatau Tahun 1883

  • Dari 20 April hingga 10 Mei 1883: Aktifitas seismik yang hebat di Sumatra Selatan dan Jawa Barat (tetapi saat ini tidak ada kaitan antara aktivitas seismik ini dengan Krakatau).
  • 10-19 Mei 1883: Gempa bumi semakin meningkat yang menyebabkan kerusakan besar dan jatuhnya korban.
  • 20 Mei 1883: Setelah 203 tahun tidur, Gunung Perbuatan, sebuah kerucut vulkanik kecil mengalami erupsi, suara ledakan dirasakan dalam radius 160 km! Ketinggian letusan mencapai 13.000 meter. Gelombang kejut menghentikan semua jam sampai Jakarta (nama zaman kolonial: Batavia)
  • 26 Mei 1883: Aktivitas gunung berapi menurun intensitasnya. Selama tiga hari, ketinggian letusan erupsi stagnan antara ketinggian 1000 hingga 1500 meter. Mengambil keuntungan dari keadaan ini, wisata bahari mulai digerakkan di sekitar Krakatau.
  • 27 Mei 1883: Insinyur pertambangan Belanda Schurman tiba di pulau Rakata / Krakatau (Kami berutang kepadanya perihal laporan ilmiah pertama letusan ini) dan menyatakan bahwa tidak ada lagi sehelai daun di pohon-pohon dan 60 sentimeter abu hitam basaltik tutupi batu apung yang sangat jernih (30 cm). Pengamatan ini merupakan titik awal untuk penjelasan letusan dahsyat yang akan terjadi berikutnya.
  • Dari 29 Mei hingga akhir Juni 1883: aktivitas vulkanik eksplosif kembali terjadi dengan ketinggian letusan sekitar 5.000 meter.
  • 1 Juli 1883: Erupsi vulkanik brutal kembali terjadi. Kolom letusan naik ke 18.000 meter kemudian secara bertahap menurun hingga 10 Agustus ketika mencapai hampir 1.000 meter. Selama periode ini, pecahan batu apung jatuh sampai ke 1900 km sebelah barat Krakatau. Ada lingkaran cahaya permanen di sekitar matahari, bulan membiru.
  • 10 Agustus 1883: seorang kapten dari layanan topografi tentara Belanda, Ferzenaar akan menjadi orang terakhir yang mendarat di pulau Krakatau. Dia menyatakan: “Semua cabang pohon patah, ketebalan abu mencapai 2,5 m dan kami merasakan beberapa ledakan kecil di kerucut gunung berapi Danan”.
  • 11 Agustus 1883: kebangkitan gunung api Danan dengan erupsi yang sangat luar biasa. 11 cerobong erupsi secara simultan masuk ke dalam aktivitas dan memproyeksikan material vulkanik mereka ke ketinggian sekitar 6000 m. Aktifitas ini terus berlanjut hingga 26 Agustus.

Mulai tanggal berikut, rekonstruksi peristiwa sebagian besar didasarkan pada rekaman alat pengukur, endapan gunung berapi dan kesaksian beberapa kapten kapal yang melintasi Selat Sunda atau berlayar di dekat pantai. dari Sumatra (selatan Bengkulu) yang kapalnya tidak tenggelam! Karena tidak ada satupun yang tinggal di dekat gunung berapi yang selamat.

  • 26 Agustus 1883
    • 10.00 WIB – tinggi kolom letusan mencapai 11.000 meter
    • 13.00 WIB – Tinggi kolom letusan mencapai 21.000 meter
    • 15.00 WIB – Tinggi kolom letusan mencapai 26.000 meter. Dalam waktu 7 jam, Pulau Sertung (pulau kecil di sebelahnya) telah tertutup abu vulkanik setebal 27 meter (6cm/menit)
  • 27 Agustus 1883
    • pada pukul 5.30 pagi, rangkaian ledakan besar yang akan terlihat dalam radius 3000 km dimulai.
    • 07.00 WIB – Tinggi kolom letusan mencapai 43.000 meter
    • 09:58 WIB – Ledakan terbesar terjadi, yang akan terlihat dalam radius 5.000 km, di mana suaranya akan terdengar lebih dari 4 jam kemudian. Gelombang kejutnya begitu dahsyat sehingga semua jendela pecah dalam radius 500 km, ia akan menjelajah dunia 7 kali! Ledakan kolosal ini disertai dengan gelombang pasang besar (Tsunami). Ketinggian gelombang menerjang di pantai Jawa dan Sumatra, tingginya diperkirakan mencapai 47 meter. Gelombang besar ini akan memakan waktu 2 jam untuk mencapai ibukota Batavia (sekarang Jakarta). Sebuah kapal perang, Berouw, dengan 10 anggota kru ditemukan 5 km ke pedalaman Sumatra setelah melewati lebih dari 15 bukit (lihat peta daerah yang terkena dampak tsunami di bawah). krakatau dari 1883). Tercatat, beberapa hari setelah letusan, kenaikan air yang tidak normal di Mont Saint-Michel (lihat buku-buku balai kota, indeks pasang tahun 1883).
    • Ketinggian abu vulkanik mencapai 48.000 m. Kegelapan total dalam radius 400 km. Aliran piroklastik dari batu apung dan abu pijar yang dicairkan oleh gerakan gas di permukaan laut pada jarak yang jauh (sekitar 170 km hanya dilihat beberapa orang) dengan kecepatan 360 km/jam atau 100 m/dtk. Abu yang dilepaskan oleh gunung berapi jatuh pada area seluas 700.000 km², area terdampak terbesar yang pernah tercatat. Abu terbang sampai di orbit di sekitar planet ini dan akan memakan waktu lebih dari setahun untuk jatuh.
    • 14.30 WIB – Malam radius 600 km, kegelapan malam total menyelubungi di sekitar pusat erupsi. 4/5 wilayah pulau Krakatau telah menghilang. Tidak ada yang tersisa dari gunung berapi Danan dan Perbuatan dan hanya menyisakan sedikit bagian timur dari Gunung Rakata. Di tempat pulau yang runtuh sekarang terbuka kaldera sedalam 290 m, di bawah laut.
    • 16.00 WIB – letusannya berkurang, ketinggian kolom erupsi hanya 25.000 m.
  • 28 Agustus 1883: ini adalah akhir dari letusan yang berlangsung 39 jam yang telah menyebabkan 40.000 korban, ratusan desa hancur. Volume material yang dikeluarkan oleh gunung berapi sebanyak 20 km3. Energi yang dikeluarkan oleh letusan ini diperkirakan 100.000 kali kekuatan bom Hiroshima.

Peta daerah yang dilanda tsunami yang dihasilkan oleh letusan Krakatau pada tahun 1883

Daerah yang dilanda tsunami dihasilkan oleh letusan krakatau 1883

Peta waktu tempuh gelombang tsunami dipicu oleh letusan Krakatau 1883

waktu perjalanan gelombang tsunami krakatau 1883

Peta Krakatau setelah letusan 1883

Peta Krakatau 7 minggu setelah letusan 1883

Mengapa letusan Krakatau begitu besar?

Apa pemicu letusan dengan intensitas seperti itu?

Kita harus ingat pengamatan yang dilakukan oleh insinyur pertambangan Belanda Schurman: “60 sentimeter abu basaltik hitam mencakup 30 sentimeter batu apung yang sangat jelas (dasit). “

Ini membuktikan bahwa gunung berapi terdiri dari komposisi yang sangat berbeda. Karena itu ada kemungkinan bahwa intrusi magma basaltik yang sangat panas terjadi di reservoir atau ruang magma yang diisi dengan magma dasit yang kurang panas. Viskositas dan suhu yang berbeda, konveksi instan di mana pencampuran besar dalam satu tempat, dengan percepatan pembuangan gas dan tekanan besar yang dihasilkan. Ketika tekanan yang meningkat secara fenomenal melebihi batas resistensi dinding gunung, dinding tersebut meledak dan hancur. Laut kemudian mengalir ke dalam reservoir magma pada 1300 derajat. Erupsi kolosal yang disebut “phreato-ultraplinian” dimulai. Penguapan instan campuran air laut dan magma yang sangat eksplosif. Ledakan yang dirasakan dalam radius 5000 km adalah emisi dari beberapa semburan atom abu dan batu apung, pemecah yang disebut “awan api” yang akan menjadi aktor utama bencana alam ini.
4/5 pulau itu hilang. Itu tidak meledak seperti yang diperkirakan, tetapi tenggelam dalam gelombang. Atap reservoir magma telah runtuh menciptakan kaldera dengan diameter 10 km di bawah laut.

Apa penyebab ledakan hebat Krakatau pada tahun 1883?

Ledakan terakhir dengan intensitas yang sangat kuat mungkin disebabkan oleh penetrasi air laut dalam jumlah yang sangat besar di ruang magma. Campuran air laut dan magma ini sangat mudah meledak.

Penyebab lainnya, ledakan yang kurang intens juga bisa disebabkan oleh interaksi aliran piroklastik dengan air laut.

Mengapa letusan Krakatau menyebabkan tsunami yang begitu dahsyat?

Tsunami ini disebabkan oleh gelombang kompresi yang mengikuti ledakan yang disebabkan oleh penetrasi sejumlah besar air laut di dalam reservoir dan jatuhnya laut bagian utara gunung berapi Rakata yang mencapai 860 m di atas permukaan laut. Beberapa kilometer kubik batu telah menembus gelombang dalam beberapa saat yang menyertai pembentukan kaldera bawah air.

Ilustrasi Artikel Dunia, 29 September 1883 tentang letusan Krakatau

(Kalimat dalam tanda kurung, dicetak miring, adalah komentar saya sendiri)

Bencana besar di tanah Jawa

Pada hari-hari terakhir bulan Agustus, sebuah bencana mengerikan terjadi di Batavia (nama Jakarta di era kolonial Belanda) dan di kota-kota sekitarnya.

Batavia, seperti kita ketahui, adalah ibu kota pulau Jawa, di Oceania (Sangat menarik untuk dicatat bahwa Indonesia dianggap bagian dari Oceania dan bukan Asia). Di bagian barat pulau ini naik beberapa gunung berapi. Di sini, tanah hampir di mana-mana penuh dengan bukaan di mana muncul uap bawah tanah. Besar kemungkinan tekanan dari uap-uap ini telah menjadi, dalam waktu belakangan ini, cukup kuat untuk membawa ke mulut gunung berapi lava cair yang akan melewati kawah atau retakan yang mengali sisi pegunungan.

Di malam hari, ledakan hebat mulai terjadi dari pulau vulkanik Krakatau. Hujan batu, lava dan abu jatuh di kota-kota tetangga: Soerkata, Serang, Cirebon.

Di Batavia gas keluar ke mana-mana, dan sinar vulkanik terlihat sepanjang malam. Di pagi hari, hari itu terganggu oleh awan tebal; di Batavia kegelapan hampir total. Keributan ini telah melepaskan air Sungai Serang. Jembatan terhanyut; selain itu, invasi laut yang tiba-tiba memicu aliran air.

Sebuah desa di dekat Auger tersapu habis.

Seperti di semua negara vulkanik di mana intensitas panas bawah tanah mengaktifkan perkecambahan, vegetasi pulau Jawa sangat luar biasa. Gunung-gunung ditutupi dengan kayu dan sereal. Bukit di ketinggian udaranya sangat segar dan menyehatkan.

Dokter mengirim pasien untuk pulih ke wilayah yang indah ini. Aliran jernih mengalir di mana-mana, dan orang Jawa tidak tahu perubahan musim.

Bencana yang mengerikan itu berakibat kematian 100.000 orang pribumi dan garnisun Auger Belanda yang hilang dalam ombak. Pada malam hari Senin, 26 Agustus gunung berapi Papandayang (Di sini kita berbicara dengan baik tentang Krakatau dan bukan Papandayan yang terletak di tenggara Bandung, bahkan pada saat kesalahan merayap ke dalam artikel pers) dimulai untuk membakar api dan torrents lava. Di Sumatra terlihat tiga tiang api besar yang menjulang tinggi; sisi-sisi gunung berapi tempat mereka muncul diserang oleh aliran lahar, yang mengalir jauh dan luas ke segala arah. lontaran batu jatuh sejauh beberapa mil, dan suasananya sarat dengan debu sehingga kegelapannya sempurna. Badai itu menambah ngeri keadaan yang menghancurkan ini, menghilangkan atap rumah, pohon, manusia dan binatang.

Tiba-tiba, pemandangan berubah: Gunung itu runtuh, dan pada titik di mana Papandayan (Krakatau dan bukan Papandayan) berdiri, ada tujuh puncak yang berbeda yang dimuntahkan oleh aliran kawah uap dan lahar putih, menyerang perlahan-lahan lereng bukit membentuk tumpukan api. sejauh seratus yard.

Di Batavia, 20.000 orang Cina dan beberapa ratus orang Eropa tewas di bagian kota yang lebih rendah; di sisi kota yang indah ini, tidak ada jejak kawasan Eropa yang tersisa. Di istana gubernur, yang berada di kota bagian atas, atapnya runtuh di bawah massa lumpur vulkanik dan tiga pelayan tewas. Kota Bantam seluruhnya tertutup oleh air; Diasumsikan bahwa 1200 hingga 1500 orang tenggelam. Di Pulau Serang, belum ada yang dilaporkan selamat. Di Cirebon, meskipun banjir tidak banyak merusak, jatuhnya batu dan lava menyebabkan banyak korban.

Birtinzong, Samarang (Semarang), Jogjukerta (Yogyakarta), Sourakerta (Surakarta, juga disebut Solo) dan Surabaya – titik terakhir 500 mil dari Selat Sunda, pusat bencana alam – sangat menderita. Tumerang ditutupi dengan lava, dan setengah dari penduduk asli, sekitar 1800 orang, tewas. Figelenking hampir hancur. Bencana besar juga terjadi di Warange, Talatoa dan di tempat lain. Adapun kota-kota Telok-Betong. Auger dan Tjeringen tidak lebih dari tumpukan reruntuhan.

Auger adalah pelabuhan kecil yang menawan, semuanya dikelilingi oleh tanaman hijau, di mana orang bisa melihat di pantai salah satu pohon beringin (pengganda) paling indah di Kepulauan Melayu. Cabang-cabangnya membentuk kubah dengan diameter lebih dari 50 meter di pangkalan.

Dari sudut pandang hidrografi, yang paling mengkhawatirkan para navigator; jalannya selat itu tampaknya sepenuhnya kacau. Kita dapat menilai dengan uraian berikut:

Selat Sunda panjangnya 70 mil (jaraknya 1.862 meter). Pintu masuknya dari barat daya, artinya, di sisi Samudra Hindia, lebarnya 60 mil, tetapi di sisi Laut Cina selatnya menyempit dan sekarang hanya 13 mil, sekitar 20 kilometer. Tentang bagian tengahnya, pada jarak yang sama dari pantai, adalah sekelompok tiga pulau, yang terbesar di antaranya, Krakatau, memiliki panjang lima mil dan tiga mil lebarnya. Puncak vulkaniknya, 699 meter di atas permukaan laut, adalah titik pengamatan yang sangat baik.

Krakatau, gersang dan tak berpenghuni; petugas yang melakukan hidrografi tidak menemukan jejak air segar, tetapi mereka mengenali di pantai timur lautnya ada sumber air panas di mana termometernya menunjuk angka sekitar 68 derajat celcius. Di Pulau Panjang, yang dipisahkan dari Krakatau hanya dengan saluran sepanjang beberapa ratus meter, kehidupan binatang diwakili oleh spesies rusa yang sangat kecil dan babi hutan. Antara Krakatau dan Jawa, bagian bawahnya tidak merata, tetapi saluran itu tidak menunjukkan bahaya; di sisi Sumatra, ada bebatuan dan beberapa pulau, yang tertinggi di antaranya, Poulo-Bezee, luar biasa karena puncaknya yang sangat tajam, setinggi 860 meter, artinya, lebih tinggi dari gunung berapi Krakatau.

Empat belas pulau vulkanik yang muncul dari perairan berada di garis yang menghubungkan Hog ​​Point, yang terletak 12 mil dari Teluk Lampong, tempat kota Telok-Betong yang hancur, di Point St. Nicholas, titik paling utara Jawa; karena itu mereka berada di bagian tersempit dari selat, yang memiliki lebar hampir 20 kilometer, hampir di mulutnya ke laut Cina.

Salah satu anggota Dewan India meninggalkan Batavia, dengan kekuatan penuh untuk mendistribusikan bantuan kepada para penyintas Kabupaten Bantam. Menteri Angkatan Laut Belanda telah memerintahkan Batavia untuk mengirim kapal perang jelajah ke pintu masuk Selat Sunda, untuk memperingatkan banyak kapal yang datang dari Samudra Hindia bahwa navigasi berbahaya dalam hiasan ini. Harus ditakuti, terlepas dari semua tindakan pencegahan yang akan diambil, bahwa kita harus mencatat banyak kerugian maritim; tentu akan diperlukan untuk menyeberang selama beberapa bulan kapal pengintai, untuk memperingatkan para navigator yang berada di lautan pergolakan hidrografis dari bagian yang mereka maksudkan untuk memasuki laut Cina. Angkatan Laut Inggris baru saja melepaskan diri dari skuadron Cina tiga kapal perangnya, sang Juara, Maypie, dan Flyingfisch, yang memiliki hak untuk meninjau kembali Selat Sunda.

Di Amsterdam, Den Haag dan kota-kota utama Belanda, komite dibentuk untuk membantu para korban bencana ini.


Kelahiran “ANAK KRAKATAU”


Setelah hari yang terkenal ini, 27 Agustus 1883, tidak ada aktivitas fumarolik atau ledakan terjadi selama 44 tahun.

  • 29 Desember 1927: manifestasi pertama letusan bawah laut di lokasi bekas gunung berapi Perbuatan.
  • 26 Januari 1928: Semprotan besar abu hitam keluar dari laut dan naik beberapa ribu meter.
  • Februari 1928: Sebuah pulau baru muncul, lahirnya Anak Krakatau.
  • 1933: Lahirnya pulau baru berbentuk cincin, tingginya sekitar 67 m.
  • 1941 : Tingginya sekarang 139 m
  • Dari tahun 1941 hingga 1950: suksesi fase konstruktif dan destruktif. Gunung berapi akan mencapai 160 m sebelum kembali ke ketinggian 129 m.
  • Dari tahun 1950 hingga 1960: kerucut kedua mulai muncul di kawahnya yang luas.
  • Hingga 1988: aktivitas eksplosifnya hampir konstan dengan aliran lava yang mengkonsolidasikan dasarnya.
  • Dari 1988 hingga 1992: aktivitas berhenti.
  • November 1992 hingga 2002: aktivitas ledakan berlanjut dengan semburan lava yang fantastis. Aktivitas ledakan rutin berlanjut hingga 2002.
  • 2007 hingga 2012: Aktivitas vulkanik dan ledakan Krakatau kembali dan fantastis dengan “booming” yang memekakkan telinga, semburan lava, blok basal atau aliran lava jatuh lebih dari 500 m di sekitar kawah.


Tinggalkan Balasan